Saturday, May 19, 2018

kalimat yang baik seperti pohon kurma

salimafillah (Instagram)

IBARAT POHON KURMA
@prouchannel
.
Allah membuat perumpamaan dalam Al-Qur'an tentang kalimat yang baik itu "kasyajaratin thayyibah," seperti pohon kurma yang baik yang akarnya menghujam, cabangnya tinggi menggapai langit, dan buahnya dinikmati setiap musim.
.
Salah satu tafsirnya adalah pohon kurma. Tetapi pohon kurma ini juga menarik karena ternyata, masyaAllah, pohon kurma itu ketika ditanam, bijinya harus ditutup dengan ditumpuk-tumpuk batu. Kenapa? Karena supaya akarnya menghujam kokoh lebih dahulu sebelum batangnya naik ke atas.
.
Maka, kalau kita ini ingin menjadi yang kokoh seperti pohon kurma, perumpamaan tentang keimanan itu, maka ternyata Allah memberikan kesulitan-kesulitan pada kita terlebih dahulu untuk mengokohkan akar kita, baru kemudian setelah itu menumbuhkan kita menggapai langit dan memberikan buah kepada sesama.
.
Iman kita dikokohkan dengan berbagai musibah dan ujian supaya berakar teguh.
.
.
.
Subscribe dan simak kajian-kajian @proumedia lainnya di YouTube/proyouchannel. Tag sahabat terbaikmu!
.
๐ŸŽฌ @salimafillah
๐Ÿ“น @mfarisap
๐Ÿ‘• @fullheart.corp
๐Ÿ—จ @mncrgkn.skl
.
#syiarkan #gagasandancitacita #proyouchannel #1minutebooster #mncrgknskl
====
Reshare by tim CITA: Cinta Ilmu Teknologi Agama
*๐Ÿ“–Di Bulan Ramadhan yg penuh berkah ini, Mari kita rutinkan membaca dan mendengarkan Al Qur'an*

๐Ÿ‘ณ๐Ÿป‍♂ *Mari dengarkan dan ikuti bacaan Al Qur'an syaikh Mishary Al afasy yg Merdu banget, supaya bacaan kita tepat dan merdu juga. Aamiin*

๐Ÿ’ป๐Ÿ“ฑ *๐Ÿ†“Lihat lengkap vidio Al Qur'an merdu perhalaman di:*
http://bit.ly/quranperhalaman

*๐Ÿ‘ 10 Kelebihan:*
1. Dibaca syaikh Mishari rashid Alafasy/ Mishary Alafasy ๐Ÿ‘ณ๐Ÿป‍♂
2. Suara Merdu/enak ๐Ÿ“ข
3. Terjemahan B. Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
4. Ada pointer/ditunjuk ๐Ÿ“
5. Perhalaman ๐Ÿ“‹
6. Cocok untuk Pribadi, sekolah, Tahfid, anak, dewasa, pondok dll ๐Ÿ˜„
7. Bisa didengarkan sambil ngerjakan yg lain seperti masak, ngetik dll๐Ÿ‘จ‍๐Ÿ’ป
8. Gratis ๐Ÿ†“
9. Tajwidnya tepat ✅
10. Kualitas vidio bagus ๐Ÿ’ฏ dilengkapi playlist shg bisa langsung putar ke vidio berikutnya.

๐Ÿฅ ๐ŸŒ *Mari kita share tulisan tersebut supaya kita dan org lain dapat manfaatnya.*

Barakallahu lanaa.
Smg kt sukses mulia dunia akherat.
ุขู…ِู€ู€ู€ู€ู€ูŠْู†ْ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ْุนَู€ู€ู€ุงู„َู…ِูŠْู†ْ

Tuesday, March 27, 2018

Hukum Syari’at & Implikasi Logis

Oleh: Ust M Taufik NT

Akal memang mempunyai peran penting dalam keimanan seseorang, bahkan taklif hukum syara’ kepada diri seseorang ditentukan berdasarkan akalnya. Oleh karena itu orang yang belum baligh dan orang gila tidak dibebani kewajiban syari’at karena akalnya tidak sempurna.

Karena tidak semua hal mampu dijangkau akal, maka tidak boleh akal dijadikan pemutus perkara terhadap hal yang tidak dijangkaunya itu. Diantara hal yang tidak dijangkau akal adalah ketentuan halal-haramnya sesuatu, mengapa daging babi itu haram sementara sapi halal, ini bukanlah ranah akal membicarakannya. Peran akal hanyalah memahami dalil (nash), memahami fakta yang dikenai nash (manath) dan menerapkan dalil atas fakta tersebut.


Adapun logika semata-mata tidaklah selalu bermanfaat dalam membantu menyimpulkan suatu hukum. Banyak kerancuan jika hanya mengandalkan logika saja.

*Contoh pertama*:

“X memperjuangkan hukum Allah.”

“X menyatakan hukum yang dipakai negara bukanlah hukum Allah.”

“X menuntut haknya lewat pengadilan negara.”

Lalu disimpulkan bahwa:  X tidak konsisten

*Contoh kedua*:

“Y menyatakan demokrasi adalah sistem kufur.”

“Y mendatangi DPR untuk mensosialisasikan perjuangannya.”

“Y bahkan menjadi PNS.”

Lalu disimpulkan bahwa: “Y tidak konsisten, mengkufurkan demokrasi namun menikmatinya.”

Baik contoh pertama maupun kedua, letak kerancuannya adalah pada penggunaan logika (implikasi) semata dalam membuat kesimpulan (hukum). Padahal seharusnya dilihat bahwa tiap point dalam ungkapan tersebut memiliki hukum syara’ masing-masing, dimana hukum syara’ itu harus ditetapkan dengan dalil dan metode ijtihad yang shahih, bukan dengan logika semata.

Dalam contoh pertama, “X memperjuangkan hukum Allah.” itu bukanlah haram, begitu juga “X menyatakan hukum yang dipakai negara bukanlah hukum Allah.” juga tidak salah, karena faktanya memang begitu, lalu “X menuntut haknya lewat pengadilan negara.” juga bukanlah sesuatu yang haram.

Begitu juga contoh kedua, point-point yang dilakukan Y tidaklah haram (dg syarat dan ketentuan berlaku), sehingga pernyataan "X dan Y tidak konsisten" adalah pernyataan yang keliru, karena kenyataannya justru X dan Y konsisten mengikuti hukum syara’.

Contoh lainnya yang dilakukan Nabi saw:

“Nabi menyerang kekufuran.”

“Nabi menyuruh shahabat minta nushrah kpd Najasiy yg saat itu masih kafir.”

“Nabi menggunakan mata uang negara kafir Romawi dan Persia.”

“Nabi  menggunakan senjata buatan orang kafir untuk melawan mereka.”

Beranikah mengatakan Nabi saw tidak konsisten memperjuangkan Islam dan melawan kekufuran?

Contoh lain lagi:

“Nabi haram memakan harta zakat (shadaqah)”

“Bariroh mendapatkan daging sedekah.”

“Nabi memakan daging sedekah sebagai hadiah dari Bariroh.”

Beranikah menyatakan Nabi tidak konsisten, mengharamkan makan sedekah untuk dirinya, namun kok makan daging yang berasal dari sedekah?

Bariroh mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi, sedangkan Nabi  tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi bersabda,

ู‡ُูˆَ ู„َู‡َุง ุตَุฏَู‚َุฉٌ ูˆَู„َู†َุง ู‡َุฏِูŠَّุฉٌ

‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. al Bukhori).

Jadi, berhati-hatilah menggunakan logika, karena tiap hal itu bisa jadi ada penggalian hukumnya sendiri. Allรขhu A’lam. [MTaufikNT]

Wednesday, March 14, 2018

Darurat Narkoba dan Solusi Penanganannya


Pemuda adalah calon pemimpin masa depan, generasi penerus bangsa, dan kontributor bagi kemajuan Negara. Mereka adalah kekayaan sumber daya manusia yang sangat berharga bagi sebuah bangsa. Eksistensi dan karya mereka sangat berpengaruh dalam membangun sebuah bangsa. Besar dan majunya bangsa tergantung dari seberapa kuat dan hebatnya generasi mudanya. Ide dan penemuan sains teknologi serta keterampilan praktis yang mereka hasilkan sangat ditunggu-tunggu masyarakat.
Lalu, bagaimana pemuda di negeri ini? Bisakah pemudanya menjadi harapan bagi masyarakat dan Negara Indonesia yang kita cintai ini? Kita bersyukur masih ada pemuda (walaupun jumlahnya sedikit) yang berprestasi dan berkarakter baik. Tapi disisi lain, ternyata saat ini kondisi kebanyakan pelajar sangat jauh dari harapan. Banyak pemuda terlibat dalam pergaulan bebas, akrab dengan narkoba, rutinnya perkelahian antar pelajar (tawuran) dan bahkan pembunuhan, perkosaan, sampai aborsi banyak dilakukan dari kalangan pemuda.
Darurat Narkoba
Kelamnya kehidupan pemuda kita saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Narkoba menjadi salah satu penyebabnya. Dalam perkembangannya, kini di Indonesia telah menjadi tempat produksi Narkoba. Bahkan menjadi pasar narkoba terbesar kedua di dunia. Indonesia saat ini sudah masuk menjadi negara darurat narkoba. Hal tersebut dikarenakan angka prevalensi penyalah guna narkotika di Indonesia pada survei tahun 2015 mencapai 2,20 persen atau lebih dari 4 juta orang yang terdiri dari penyalah guna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengatakan, jumlah angka tersebut menyebabkan dampak yang buruk bagi orang yang bersangkutan, diantaranya adalah tindak kejahatan, orang tua yang menelantarkan anaknya, perilaku seks menyimpang dan dampak buruk mengakibatkan kematian (http://www.beritasatu.com).
Diperkirakan peredaran gelap narkoba di Indonesia mencapai 300 triliun Rupiah / tahun. Sedikitnya lebih dari 15 ribu jiwa melayang sia-sia per tahunnya  karena Narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, sebanyak 22% pengguna narkoba di Indonesia dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebanyak 1,1 juta para penggunanya pada usia produktif  (usia 10 – 59 tahun) Diantaranya dari Pelajar dan Mahasiswa. Sejak 2010 sampai 2013 tercatat ada peningkatan jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi tersangka kasus narkoba. Pada 2010 tercatat ada 531 tersangka narkotika, jumlah itu meningkat menjadi 605 pada 2011. Setahun kemudian, terdapat 695 tersangka narkotika, dan tercatat 1.121 tersangka pada 2013.
Menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim AKBP Firmansyah: ”Dari setiap 500 pelajar (yang dirazia/dites), rata-rata ada lima hingga 10 yang terindikasi menggunakan narkoba. Jadi, sekitar satu hingga dua persennya”. Sehingga dari 3,221 juta siswa-siswi di provinsi Jatim berarti ada sekitar 65.000 pelajar yang biasa sarapan narkoba (Surya,1/4/2015). Polres tulungagung bidik 96 kasus narkoba pada tahun 2015, meningkat 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pakai Narkoba kok bangga
Selain fakta mencengangkan di atas, hati kita dibuat lebih miris dengan perilaku pengguna narkoba. Akhir-akhir ini orang pakai narkoba malah bangga. Berdasarkan pemberitaan di Jawa Pos sabtu 25 April 2015, ada 3 pemuda di gresik yang tertangkap pesta sabu-sabu, tapi tetap “happy”, tidak terlihat sedih. Mereka berpose gembira dan senyum ketika diambil gambar untuk dimuat oleh wartawan. “Aku bukan penjahat, kenapa harus menutupi diri,” Ucap Mona. Ini benar-benar gawat, sekarang terjadi pergeseran nilai. Dulu orang merasa malu jika bersalah, anehnya, sekarang orang bersalah malah bangga. Hal ini menunjukkan ada yang salah dalam pola pikirnya.

Solusi penanganannya
Berdasarkan data penyalahgunaan narkoba dan keanehan di atas, sungguh sangat memprihatinkan. Jika kita tidak segera bertindak dengan serius dan cepat, dampak buruk dan kerugiannya akan semakin besar lagi sehingga kita akan banyak kehilangan generasi muda yang akan membawa negeri kita menjadi lebih bermartabat. Berdasar kondisi tersebut maka upaya pencegahan dan pemberantasan  penyalahgunaan dan peredaran narkoba sangat mendesak untuk terus digencarkan terutama untuk kalangan pemuda.
Untuk mengatasi masalah tersebut, selain tindakan hukum yang tegas dan keteladanan, langkah jitu Pemprop Jawa Timur dan berbagai elemen seperti Perguruan Tinggi, Kejaksaan, kepolisian dan BNN  melakukan “Gerakan Rehabilitasi 10.000 Penyalahguna Narkoba" wajib didukung oleh semua pihak. Gerakan tersebut dimulai secara simbolis dengan deklarasi yang berisi tentang empat hal antara lain: pertama, Indonesia dalam keadaan darurat narkoba. Kedua, penyalahguna dan pecandu narkoba yang melaporkan ke Institusi penerima wajib lapor, tidak dituntut pidana dan mendapatkan perawatan rehabilitasi agar pulih seperti sedia kala. Ketiga, pemerintah bersama seluruh warga akan melaksanakan gerakan secara sinergis untuk merehabilitasi 10.000 penyalahguna narkoba dalam rangka mewujudkan Jatim bersih dari narkoba, dan keempat, pemerintah mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk melaksanakan pola hidup sehat tanpa narkoba.
Walhasil sinergi antara pemerintah, masyarakat, keluarga, lembaga pendidikan, dan media sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial yang sehat tanpa narkoba. Oleh karena itu diperlukan langkah nyata kita semua untuk menyelamatkan generasi ini. BNNP Jatim telah membentuk kader penyuluh anti narkoba. Para kader berkomitmen untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam menyelamatkan pemuda dari bahaya narkoba. Sebagian kader tersebut termasuk penulis telah membentuk organisasi yang diberi nama KEREN (Kader Edukatif Anti Narkoba). Selain merusak fisik, narkoba juga dapat merusak pikiran seseorang, karena itu salah satu langkah yang tepat adalah merubah pola pikir mereka yang salah dalam memahami narkoba. Pembenahan pola pikir seseorang memang perlu usaha yang keras, sabar, ulet dan waktu yang tidak sedikit. Bagi yang kesulitan membenahi pola pikir pengguna narkoba atau untuk mencegah penyalah gunaan narkoba pada masyarakat. Kami kader KEREN siap membantu berbagai pihak baik individu maupun lembaga untuk penyuluhan anti narkoba dan pembenahan pola pikir.

Profil KEREN:
KADER EDUKATIF ANTI NARKOBA yang selanjutnya disingkat “KEREN” adalah lembaga yang berkomitmen untuk menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya narkoba, membina dan mengoptimalkan potensi mereka. Tugas pokok KEREN melakukan edukasi kepada semua segmen masyarakat seperti siswa, mahasiswa, remas,kartar, kelompok masyarakat, instansi pemerintah dan swasta berupa penyuluhan, training, motivasi, kajian islami, jambore, outbound dan lain-lain.
Visi Misi KEREN BNNP Jatim:
Visi KEREN adalah: Lembaga terdepan dan terpercaya dalam edukasi anti narkoba
Misi KEREN disingkat KEREN, kepanjangan dari:
1. Kaderisasi tiada henti;
2. Edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba;
3. Revolusi mental berkarakter islami;
4. Elegan dan santun dalam berkreatifitas;
5. Niat ikhlas mewujudkan generasi cemerlang;

Program kerja KEREN BNNP Jatim:
1. Penyuluhan dalam bentuk training, dengan tema: PESAN BEKEN (Pemuda Sekolah Anti Narkoba yang Berprestasi, Kreatif dan Sopan) dilaksanakan bekerjasama dengan sekolah-sekolah.
2. Pemilihan duta anti narkoba tingkat SMA/Sederajat se Jatim, awal mei 2016
3. Kantin Anda (Kajian Rutin Anak Muda), Membina mental dan spiritual para siswa dengan Ilmu-ilmu agama islam untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT, membentuk kepribadian Islam yang utuh serta membiasakan anak berakhlaqul karimah. Pembinaan dilakukan dalam bentuk classical atau diskusi di remaja masjid/musolla, ROHIS/SKI, KARTAR, secara berkelompok 1 kali per minggu.
4. ILT (Islamic Leadership Training) dan Training Manajemen Organisasi, Membantu organisasi – organisasi di sekolah untuk mencari dan mendidik calon – calon pengurus organisasi sekolah agar mereka mampu menjadi pemimpin dan pengelola organisasi yang amanah, tangguh, mampu memegang prinsip serta sanggup menghadapi tantangan kehidupan. Program ini dilaksanakan setelah terbentuk kepengurusan organisasi disekolah (OSIS, ROHIS, DKM, dll).
5. Jambore Pelajar Anti Narkoba se Jatim

Mari bekerjasama dg KEREN.
CP HUMAS KEREN: AINUN 0856-3009-587
Penulis: Ketua KEREN BNNP JATIM: Samik, S.Si., M.Si 085731160005
               https://kerenbnnpjatim.wordpress.com


 








Tuesday, February 6, 2018

Ketika Sibuk Menuntut Ilmu Jadi Alasan Meninggalkan Dakwah

Oleh: ust. M Taufik NT

Sebagian orang ada yang meninggalkan aktivitas dakwahnya ketika merasa kurang ‘ilmu, ditambah dengan celaan orang, “lulusan umum kok dakwah”, “ilmu kunci seperti nahwu, shorof, adab, bayan, badi’, ma’ani saja masih belepotan kok ngajari orang”, ungkapan seperti ini kata al Habib Abdullah bin ‘Alawi al Haddad adalah talbรฎs (pengkaburan) Syaitan, kesannya baik agar seseorang berjibaku dalam menuntut ilmu, namun sebenarnya adalah keliru, beliau menyatakan:

ูˆุนู„ูŠูƒ) ุจุชุนู„ูŠู… ุงู„ุฌุงู‡ู„ูŠู† ูˆุฅุฑุดุงุฏ ุงู„ุถَّุงู„ูŠู† ูˆุชุฐูƒูŠุฑ ุงู„ุบุงูู„ูŠู†)

“Hendaklah engkau mendidik orang-orang yang bodoh, menunjukkan jalan lurus kepada mereka yang tersesat dan mengingatkan orang-orang yang terlena (dengan segala tipuan dunia).

ูˆุงุญุฐุฑ ุฃู† ุชุฏุน ุฐู„ูƒ ู‚ุงุฆู„ุงً ุฅู†ู…ุง ูŠุนู„ّู… ูˆูŠุฐูƒุฑ ู…ู† ูŠุนู…ู„ ุจุนู„ู…ู‡ ูˆุฃู†ุง ู„ุณุช ูƒุฐู„ูƒ، ุฃูˆ ุฅู†ูŠ ู„ุณุช ุจุฃู‡ู„ ู„ู„ุฅุฑุดุงุฏ ู„ุฃู†ู‡ ู…ู† ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุฃูƒุงุจุฑ، ูˆู‡ุฐุง ูƒู„ู‡ ุชู„ุจูŠุณ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู†

Hati-hatilah engkau dari meninggalkan yang demikian (dakwah), dengan berkata, “yang (berhak) mengajar dan mengingatkan hanyalah ulama yang mengamalkan ilmunya, sedangkan aku tidaklah demikian”, atau “*aku bukanlah orang yang pantas untuk menunjukkan jalan pada orang lain, karena yang pantas untuk itu adalah para tokoh agama.” (ucapan-ucapan) itu semua adalah pengkaburan (talbรฎs)nya setan*.

ูุฅู† ุงู„ุชุนู„ูŠู… ูˆุงู„ุชุฐูƒูŠุฑ ู…ู† ุฌู…ู„ุฉ ุงู„ุนู…ู„ ุจุงู„ุนู„ู…، ูˆุงู„ุฃูƒุงุจุฑ ู…ุง ูƒุงู†ูˆุง ุฃูƒุงุจุฑ ุฅู„ุง ุจูุถู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุนู…ู„ ุจุทุงุนุชู‡ ูˆุฅุฑุดุงุฏู‡ู… ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฅู„ู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡، ูˆุฅุฐุง ู„ู… ุชูƒู† ุฃู‡ู„ุงً ูู„ูŠุณ ู„ูƒ ุทุฑูŠู‚ ุฅู„ู‰ ุญุตูˆู„ ุงู„ุฃู‡ู„ูŠุฉ ุฅู„ุง ูุนู„ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุฏุนุงุก ุฅู„ูŠู‡.

Sesungguhnya, (memberikan) pendidikan dan peringatan termasuk dalam kategori mengamalkan ilmu. Dan para tokoh, mereka tak akan menjadi tokoh (agama) kecuali dengan anugerah Allah dan mengamalkan ilmunya dengan taat kepada-Nya dan membimbing hamba-hamba Allah ke jalan Allah. Jika engkau merasa tidak pantas untuk hal itu, maka tidak ada jalan bagi engkau untuk mendapatkan kepantasan tersebut kecuali dengan melakukan kebaikan dan menyeru (berdakwah) kepada kebaikan tersebut. (Risรขlah al Mu’รขwanah, hal 67)

***

Solusi kurang ‘ilmu bukan dengan meninggalkan dakwah, namun dengan makin giat menuntut ‘ilmu, dan mengamalkan ilmunya. Salah satu bentuk pengamalan ilmu adalah dengan mendakwahkan apa yang sudah diketahuinya, sebagaimana penjelasan di atas. Jika ini dilakukan, Allah akan membuka pintu-pintu ilmu yang sebelumnya tidak diketahuinya, tentu jika dijalani dengan benar.

Di sisi lain, dakwah tidak identik dengan ceramah, ngisi pengajian ataupun menjadi pembicara dalam suatu kegiatan saja. Mengajak orang shalat, adzan, mengantar surat undangan untuk kajian, menyiapkan peralatan, memviralkan kegiatan, mengedit dan mengupload video pengajian, menyumbang dana untuk konsumsi peserta, mengangkati meja dan kursi untuk jamaah, itu juga termasuk dalam kerangka dakwah, yang bisa jadi pahalanya lebih besar daripada pahalanya pembicara, apalagi kalau pembicaranya terjangkit penyakit riya’ atau ‘ujub.

Bahkan ikut aktif dalam organisasi dakwah, menyiapkan diri dan waktunya untuk melancarkan agenda organisasi dakwah tersebut, menghadiri acaranya walau sekedar hadir, itu juga termasuk dakwah jika dilakukan untuk mengajak dan mempengaruhi opini masyarakat agar mencintai Islam. Mungkin dia tidak pernah sekalipun berbicara dan ngisi pengajian, namun dia akan mendapatkan bagian pahala dakwah yang dilakukan oleh pembicara.

Menyeru kejalan Islam itu tidak melulu dengan mulut, namun lebih dari itu, membentuk opini dan kesadaran umum hingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar terkait Islam juga merupakan dakwah. Oleh karena itu, sekedar hadir dalam kegiatan yang bertujuan untuk membentuk opini, sambil menunjukkan akhlak yang baik, itu juga termasuk dakwah, sebagaimana pula seorang sahabat yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum r.a, ketika ikut dalam perang al Qadisiyyah, beliau juga terhitung berjihad, walaupun logika menyatakan tidak mungkin secara riil beliau terjun dalam peperangan. Beliau berfikir sederhana, dengan hadirnya beliau, paling tidak memberikan opini bahwa pasukan kaum muslimin itu banyak, harapannya, bisa menggentarkan musuh.

Ketika Anas bin Malik bertanya kepadanya:

ุฃู„ูŠุณ ู‚ุฏ ุฃู†ุฒู„ ุงู„ู„ู‡ ุนุฐุฑูƒ؟

"Bukankah Allah telah memberi udzur kepadamu?"

Beliau menjawab,

ุจู„ู‰، ูˆู„ูƒู†ูŠ ุฃูƒุซุฑ ุณูˆุงุฏ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุจู†ูุณูŠ

“Benar, namun aku ingin memperbanyak  jumlah pasukan kaum muslimin dengan (kehadiran) diriku.”[2]

Jika dengan butanya mata, beliau r.a tidak ingin ketinggalan memberikan peran yang lebih untuk Islam dan mendapatkan kemuliaan dari amal yang hampir ‘mustahil’ dilakukan orang buta, apakah dengan kekurangan ilmu kita–padahal pintu belajar senantiasa terbuka–  kita tidak ingin mendapatkan kemuliaan dakwah, dimana satu orang yang mendapatkan hidayah dg perantaraan kita, langsung atau tidak, itu lebih baik dari dunia dan isinya?. Begitu juga dengan berorganisasi, kita berharap ikut kecipratan kemuliaan dakwah yang dilakukan para ustadz, karena sedikit banyak, kita juga berperan baik langsung atau tidak.

Tidak ada yang jelek dengan dakwah ke arah kebaikan, baik dilakukan oleh orang yang mumpuni keilmuannya, ataupun orang yang kurang dari itu.

ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ุดุคู… ููŠ ุงู„ุฏุนูˆู‰ ูˆุงู„ุฏุนุงุก ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ุงู„ุญู‚ّ

"Yang jelek adalah tuntutan dan seruan kepada jalan yang tidak benar". (Risรขlah al Mu’รขwanah, hal 67)

***

Namun begitu, sifat inshaf mesti ada pada diri siapa saja yang melakukan dakwah, tidak sembrono menyampaikan sesuatu yang tidak diketahui, apalagi berlagak tahu terhadap sesuatu yang belum dikaji dan verifikasi datanya. Berapa banyak orang tertipu dengan banyaknya sanad ilmu yang dimiliki, hingga akhirnya gampang mencap-ini, mencap itu, tanpa verifikasi informasi yang diterima.

Kadang, yang jadi kendala psikologis, ketika ilmu ketinggalan jauh dari popularitas, sudah terlanjur dikenal, namun ilmu tidak nambah-nambah, lalu muncul sikap malu untuk mengaji, malu untuk berkata tidak tahu ketika ditanya permasalahan yang dia tidak tahu. Rasa malu seperti inilah yang perlu dibuang jauh-jauh, bukankah Malaikat saja juga bilang tidak tahu ketika ditanya Allah tentang nama-nama sesuatu?.

Tidak tahu akan suatu masalah bukanlah aib. Al Khatib al Baghdadi (w.463 H), dalam kitabnya, al Faqรฎh wa al Mutafaqqih[1], menceritakan dari Abdurrahman bin al Mahdi bahwa seseorang dari penduduk Maghribi (Afrika) datang untuk bertanya kepada Imam Malik tentang suatu masalah, maka Imam Malik menjawab “laa adry” (aku tidak tahu), maka orang tersebut berkata:

ูŠَุง ุฃَุจَุง ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ: ุชَู‚ُูˆู„ُ ู„َุง ุฃَุฏْุฑِูŠ؟

“wahai Abu Abdillah, engkau mengatakan tidak tahu?”

Maka Imam Malik menjawab:

ู†َุนَู…ْ، ูَุจَู„ِّุบ ู…َู†ْ ูˆَุฑَุงุกَูƒَ ุฃَู†ِّูŠ ู„َุง ุฃَุฏْุฑِูŠ

“Ya, sampaikan kepada orang yang di belakang engkau (kaum yang mengutusmu dari Afrika ke Madinah untuk bertanya) bahwa sesungguhnya aku tidak tahu (jawabannya)”.

Solusi tidak tahu adalah dengan bertanya ke yang lebih tahu, mengkaji, membaca, dan menelaah berbagai literatur terkait, bukankah jika itu terjadi dan dilakukan, dg izin Allah, ilmunya juga akan bertambah? Allรขhu A’lam. [MTaufikNT]


https://mtaufiknt.wordpress.com/2018/02/07/ketika-sibuk-menuntut-ilmu-jadi-alasan-meninggalkan-dakwah/

Monday, January 29, 2018

Adab Pelajar Terhadap Pelajarannya

Adab al-Muta’allim fii Durusihi


Oleh: Samik bin Makki (Dosen UNESA dan Pembina Majelis Islam Kaffah)


Penulis memberi training PESAN BEKEN 
(PEmuda Sekolah Anti Narkoba yang BErprestasi, KrEatif dan SopaN)
di SMA Al Falah Surabaya


Selain adab pelajar terhadap dirinya sendiri dan adab terhadap gurunya, pelajar juga harus menghiasi dirinya dengan adab terhadap pelajarannya. Pelajar yang mengamalkan adab ini in syaa Allah akan lebih mendapatkan manfaat dan keberkahan terhadap pelajaran yang sedang dipelajarinya, serta lebih efektif dan efisien dalam mempelajarinya. Adapun adab-adab yang harus ia pegang dan laksanakan adalah sebagai berikut:


1. Memulai pelajaran dengan pelajaran-pelajaran yang sifatnya fardlu ‘ain seperti:

a. Hendaknya pelajar memperbaiki bacaan Al Qur’annya sebelum menghafalkannya, karena bacaan yang salah akan berdampak pada kesalahan arti, pemahaman dan hafalannya, sehingga bisa menyimpang.


b. Mempelajari ilmu tauhid yaitu ilmu yang mempelajari tentang ke Esa-an Tuhan. Ilmu ini akan memperkokoh aqidah/keimanan pelajar sehingga ia mempunyai keyakinan bahwa Allah SWT adalah pencipta sekaligus pengatur, yang telah menciptakan dan memberi aturan pada semua ciptaanNya. Keyakinan yang kuat dan benar akan membuat sesorang bangkit, lebih terikat terhadap syari’at/aturan islam sehingga orang tersebut akan lebih semangat, optimis, dan ikhlas dalam melaksanakan aturannya. Selain ikhlas, syarat diterimanya suatu ibadah adalah sesuai dengan tuntunan syari’at islam, sehingga pelajar juga wajib mempelajari ilmu fiqh.


c. Mempelajari ilmu fiqh, ilmu yang membahas masalah-masalah syari’at islam yang bersifat praktis, dan digali dari dalil-dalil syara’ yang rinci. Ilmu ini mampu mengantarkan kepada pemiliknya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah yang benar, dimulai dari cara-cara bersuci, shalat, puasa, zakat, muamalah, nikah, adab,  dan lain-lain.


d. Ilmu tasawuf, ilmu yg mengajarkan jalan menuju kesempurnaan batin, menjelaskan tentang keadaan–keadaan, maqam, tingkatan, dan membahas tentang rayuan dan tipu daya nafsu  dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Orang yang mempelajari ilmu tasawuf bisa menghindari penyakit hati (seperti riya’, sombong dan lain-lain), lebih ikhlas dan nikmat dalam beribadah.


2. Setelah mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat fardlu ‘ain maka hendaklah dalam langkah selanjutnya ia mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir Al Qur’an seperti hadits, ilmu hadits, fiqh, ushul fiqh, bahasa arab (nahwu dan sharaf), dan lain-lain. al Qur’an merupakan kitab suci yang kandunagn isinya bersifat universal, oleh karenanya dibutuhkan alat untuk menafsiri isi Al qur’an tersebut yaitu Hadits. Imam Syafi’i berkata : “Barang siapa yang mampu mempelajari kitab hadits, maka ia akan memiliki hujjah yang sangat kuat”. Ia harus bersungguh-sungguh dalam memahami tafsir Al Qur’an dan beberapa ilmu yang lain, karena Al Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu sekaligus induk dan ilmu yang paling penting. Hendaknya pelajar mampu menjaga Al qur’an dengan istiqamah membacanya dan menghafalkannya. Sebelum menghafalkan sesuatu hendaknya pelajar mentashihkan terlebih dahulu kepada guru untuk didengar dan diperbaiki. Setelah menghafalkan materi pelajaran, hendaklah diulangi sesering mungkin dan dijadikan kebiasaan yang dilakukan setiap hari.


3. Selain ilmu-ilmu di atas, pelajar yang bercita-cita menjadi ilmuwan/praktisi tertentu seharusnya memperkaya pengetahuannya dengan ilmu yang berkaitan dengan cita-citanya seperti ilmu kimia, fisika, biologi, teknik, kedokteran, hukum, ekonomi, dan lain-lain. Hendaknya pelajar memiliki cita-cita tinggi, menjadi muslim yang profesional, sukses dan mulia serta berkepribadian islam, ibaratnya kaki boleh dibumi tapi cita-cita menggelantung diangkasa, sehingga tidak boleh merasa cukup hanya memiliki ilmu yang sedikit, padahal ia masih mempunyai kesempatan yang cukup untuk mencari ilmu sebanyak-banyakanya.


4. Menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk selalu belajar sebelum datangnya perkara yang bisa mencegah untuk menimba ilmu. Tokoh para tabi’in, Sa’id bin Jubair r.a. berkata; “Seseorang selalu mendapat sebutan orang yang alim bila ia selalu belajar, menambah ilmu. Namun apabila ia telah meninggalkan belajar dan menyangka bahwa dirinya adalah orang yang tidak membutuhkan terhadap ilmu (merasa pintar), maka sebenarnya ia adalah orang yang paling bodoh”. Waktu yang paling baik untuk belajar adalah permulaan masa-masa jadi pemuda, waktu sahur berpuasa dan waktu di antara magrib dan isya'. Tetapi sebaiknya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk belajar. Muhammad Ibnul Hasan semalam tanpa tidur, selalu bersebelahan dengan buku-bukunya, dan bila telah merasa bosan suatu ilmu, berpindah ilmu yang lain. Iapun menyediakan air penolak tidur di sampingnya, dan ujarnya: "Tidur itu dari panas api, yang harus dihapuskan dengan air dingin". Apabila Ibnu Abbas telah bosan mempelajari Ilmu Kalam, maka katanya: "Ambillah kitab para penyair?".


5. Pada setiap materi pelajaran semestinya pelajar harus berpegang teguh pada guru yang ahli dibidangnya, bisa memberikan pengajaran, pendidikan yang baik terhadap materi tersebut dan lebih mengutamakan praktek. Hindari pikiran bahwa dirinya penuh kesempurnaan, tidak membutuhkan petunjuk-petunjuk guru dalam mempelajari ilmu, karena hal itu merupakan hakekat dari kebodohan dan kesombongan.


6. Bagi pelajar pemula, hendaknya menghindari pembahasan mengenai hal-hal yang masih  terdapat perbedaan pandangan (khilafiah) di antara para ulama’  baik yang berhubungan masalah-masalah pemikiran, metode, atau masalah rumit lainnya. Hal ini karena dapat membingungkannya, jenuh, dan tidak tenang. Bahkan sejak awal ia harus berpegang pada hanya satu kitab saja dalam satu materi pelajaran tertentu, menghindarkan diri mempelajari berbagai macam buku karena hal itu bisa menyia-nyiakan waktunya dan tidak bisa fokus pada satu pelajaran bahkan ia harus memberikan seluruh kitab-kitab dan pelajaran yang ia ambil kepada gurunya untuk dilihat sampai dimana kemampuan pelajarnya sehingga guru bisa memberikan bimbingan dan arahan sampai pelajar yakin dan mampu dalam menguasai palajarannya. Namun apabila pelajar sudah mempunyai dasar, latar belakang kemampuan yang sudah memadai maka dia bisa menggunakan beberapa buku  untuk meningkatkan kemampuan yang ia miliki.


7. Hendaklah mempelajari secara komprehensif masalah-masalah yang rumit setelah dapat mengkaji dan menguasai masalah-masalah yang sederhana. Ketika pelajar telah mampu menjelaskan terhadap apa yang ia hafalkan walaupun masih dalam tahap ikhtishar dan bisa menguraikan kesulitan yang ada dan faidah-faidah yang sangat penting, maka ia diperbolehkan pindah untuk membahas kitab-kitab besar serta tiada henti, terus menerus menelaah tanpa mengenal rasa lelah.


8. Hendaknya pelajar berangkat lebih awal dalam rangka untuk mencari ilmu, rutin mengikuti kajian/diskusi dengan gurunya dalam setiap pelajaran, tidak boleh absen kecuali karena alasan syarie. Jika memungkinkan, sebaiknya ia membaca/mempelajari materi yang akan diterimanya. sehingga ia akan lebih siap menerima materi, lebih faham, mendapat kebaikan, menghasilkan sesuatu yang ia cita-citakan, serta memdapatkan keutamaan dan kemuliaan. Selain persiapan materi, ia juga seharusnya mempersiapkan buku dan alat tulis sehingga ketika proses belajar mengajar bisa mencatat, memberi keterangan, memperbaiki dan membenerkan hal-hal yang perlu diperbaiki baik dari segi bahasa, konsep, contoh dan lain-lain.


9. Ketika hadir dalam majelis ilmu, pelajar harus bersungguh-sungguh dalam setiap pelajaran yang diterangkan oleh gurunya, dengan tekun, konsentrasi dan penuh perhatian, apabila hal itu bisa ia lakukan dan hatinya tidak merasa keberatan, dan selalu mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya sehingga setiap pelajaran yang telah disampaikan oleh gurunya ia kuasai dengan baik. Apabila ia tidak mampu untuk menguasai secara keseluruhan, maka hendaknya ia memprioritaskan pelajaran yang lebih penting terlebih dahulu kemudian baru pelajaran yang lain.


10. Selain bersungguh-sungguh, pelajar juga harus sopan santun, menjaga adab majelis seperti mengucapkan salam kepada seluruh peserta yang telah hadir dengan suara yang bisa mereka dengar dengan jelas, apalagi terhadap gurunya dengan memberikan salam penghormatan yang lebih tinggi dan memuliakannya. Ia tidak diperkenankan melewati orang–orang yang ada di tempat tersebut untuk mendekat pada guru, kecuali apabila guru atau peserta yang lain memintannya untuk maju. Pelajar tidak boleh berdesak-desakan jika masih ada tempat kosong, tidak boleh duduk diantara dua orang yang bersahabat kecuali mereka merelakannya, dan tidak boleh duduk di atas orang yang lebih mulia di bandingkan dengan dia sendiri. Menjaga kesopanan duduk dihadapan guru dan juga harus memperhatikan kebiasaan, tradisi yang selama ini dipakai, diterapkan oleh guru dalam mengajar.


11. Pelajar hendaknya tidak boleh malu menanyakan sebuah persoalan yang belum ia fahami dengan baik dan benar dengan menggunakan bahasa yang baik dan sopan santun. Hendaknya ia juga tidak malu mengucapkan seperti ini:  “Aku belum faham”, apabila ia ditanya  oleh gurunya , apakah engkau faham? sedangkan ia sendiri belum faham. Ketika Abu Yusuf ditanyakan: "Dengan apakah tuan memperoleh ilmu? beliau menjawab: "Saya tidak merasa malu belajar dan tidak kikir mengajar". Ketika ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra: "dengan apakah tuan mendapat ilmu?" beliau menjawab : "Dengan lisan banyak bertanya dan hati selalu berpikir". Mujahid ra. berkata : “Orang yang mempunyai sifat malu bertanya dan orang yang sombong  tidak akan bisa mempelajari ilmu”. Pelajar tidak boleh mennyakan sesuatu yang bukan pada tempatanya, kecuali karena ia membutuhkannya  atau ia mengerti dengan memberikan solusi kepada gurunya untuk bertanya. Apabila guru tidak menjawab, maka hendaknya ia jangan memaksannya, namun apabila belaiu menjawab dan kebetulan salah,  maka santri tidak boleh membantahnya seketika.


12. Pelajar harus antri dengan tertib, tidak mendahului peserta yang lain kecuaili apabila ia mengizinkannya, bila dalam belajar menggunakan sistem Sorogan (metode belajar dengan maju satu persatu dan langsung disimak dan  diperhatikan oleh ustadznya). Suatu ketika ada seorang lelaki dari sahabat anshar menjumpai rasulullah, sambil bertanya mengenai sesuatu, setelah itu datang lagi seorang laki-laki dari Bani Tsaqib kepada beliau, juga bertujuan yang sama, menanyakan sesuatu kepada beliau, kemudian nabi Muhammad SAW menjawab : “Wahai saudaraku dari Bani Tsaqif, duduklah! Aku akan memulai mengatakan sesuatu yang dibutuhkan oleh sahabat Anshar tadi, sebelum kedatanganmu”. Al Khatib berkata “Bagi orang-ornag yang datangnya lebih dulu disunnahkan untuk mendahulukan orang yang jauh dari pada dirinya sendiri, karena untuk menghormatinya. Begitu juga bagi orang yang datang belakangan apabila mempunyai kebutuhan, keperluan yang sifatnya wajib dan orang yang lebih awal mengerti akan keadaanya maka hendaknya ia didahulukan, diutamakan. Atau guru memberikan sebuah isyarat untuk mengutamakannya karena adanya kemaslahatan, kebaikan yang tersembunyi di dalamnya maka ia disunnahkan untuk diutamakan. Mendapat giliran lebih awal sebenarnya bisa diperoleh dengan cara datang lebih awal pada majelis. Hak yang dimiliki oleh seseorang tidak akan pernah gugur sebab perginya orang tersebut  karena sesuatu yang bersifat darurat, misalnya menunaikan hajat, memperbarui wudu’ dengan ketentuan apabila ia kembali pada tempat semula. Apabila ada dua orang yang saling mendahului atau saling rebutan tempat, maka hendaknya keduanya di undi, atau guru yang menentukan mana yang lebih dulu berhak menempatinya.


13. Pelajar hendaknya membawa buku bacaan dan buku tulisnya serta membantu membawakan buku gurunya dengan kedua tangannya, tidak boleh meletakkan buku gurunya dalam keadaan terbuka, tidak diperbolehkan membaca buku gurunya kecuali atas izin beliau. Apabila gurunya memberikan izin, maka ia  sebelum membaca kitab dan sebelum belajar hendaknya membaca, taawwudz, basmalah, hamdalah, sholawat kepada nabi saw, keluarganya, para sahabatnya, kemudian mendoakan kepada gurunya, orang tua para gurunya, dirinya sendiri, kaum muslimin semuanya serta memintakan rahmat kepada allah untuk pengarang kitab.Apabila selesai belajar, hendaknya ia juga mendoakan gurunya. Apabila pelajar tidak memulai dengan hal-hal tersebut, baik karena lupa /yang lain, maka hendaknya guru mengingatkan dan mengajarinya, karena hal itu termasuk etika, akhlak yang paling penting. Salah satu cara untuk memperkuat hafalan yaitu ketika mengambil buku berdo'a:


ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ูˆุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡، ูˆุงู„ู„ู‡ ุงูƒุจุฑ، ู„ุง ุญูˆู„ ูˆู„ุง ู‚ูˆุฉ ุฅู„ุง ุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนู„ู‰ ุงู„ุนุธูŠู… ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุนู„ูŠู…،

 ุนุฏุฏ ูƒู„ ุญุฑู ูƒุชุจ ูˆูŠูƒุชุจ ุฃุจุฏ ุงู„ุขุจุฏูŠู† ูˆุฏู‡ุฑ ุงู„ุฏุงู‡ุฑูŠู†.
Bimillahi wasubhanallohi walhamdulillahi wala illaha illallohu wallohu akbar wala haula wala kuwwata illa billahil a'liyyil a'zhimil a'jijil a'limi a'dada kulli harfin kutiba wayuktabu abadal abidina wadahroddahirina.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Maha suci Allah, segal puji milik Allah dan tiada tuhan selain Allah yang Maha Agung, tiada daya dan kekuatan selain atas pertolongan Allah Yang Maha Mulya, Agung, Luhur, Lagi Mah Mengetahui, sebanyak huruf yang tertulis dan akan di tulis, berabad-abad dan sepanjang masa.

Setiap selesai menulis berdo'a :



ุขู…ู†ุช ุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุงู„ุฃุญุฏ ุงู„ุญู‚، ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡، ูˆูƒูุฑุช ุจู…ุง ุณูˆุงู‡


Amantu billahil wahidi wahdahu lasyarika lahu wakapartu bima siwahu.


Artinya: Aku beriman kepada Allah Yang Tunggal, Maha Esa, berkesendirian tiada teman dalam ketuhannaNya, dan saya hindari dari bertuhan kepad selainNya.


14. Menekuni pelajaran dengan optimal, tidak berpindah pada pelajaran yang lain sebelaum pelajaran yang pertama bisa difahami dengan baik, tidak boleh pindah baik dari negara ke negara yang lain, atau dari satu madrsah kemadrasah yang lainkecuali sudah faham, darurat dan ada keperluan yang sangat mendesak,. Karena hal itu akan menimbulkan berbagai macam persoalan, membuat hati menjadi resah dan menyia-nyiakan waktu dengan percuma tampa ada hasilnya.


15. Selalu mengingat-ingat (mudzakarah) setiap pelajarandari gurunya, berupa manfaat, qaidah, definisi, batasan, contoh dan lain sebagainya, karena mengingat–ingat mempunyai manfaat yang sangat besar. Khataib Al Baghdadi telah berkata: “Bahwa mudzakarah, mengingat pelajaran yang paling baik adalah dilakukan pada waktu malam hari. Sekelompok jama’ah rombongan dari ulama’ salaf  mereka memulai mudzakarah mulai setelah isya’, mereka tidak beranjak dari tempat mudzakarah tersebut selama belum berkumandang adzan subuh, apabila santri tidak menemukan teman yang bisa untuk diajak mudzakarah, maka hendaknya ia melakukannya sendiri, ia mengulangi setiap kata yang ia dengar dalam hatinya supaya menancap dan membekas dalam lubuk hatinya. Mengulangi kata dalam hati itu sama dengan mengulangi kata pada lisan. Gunakan akal untuk berfikir baik ketika mengulangi atau ketika dihadapan gurunya, biasakan diri untuk menggunakan kekuatan otak yang dimiliki.


16. Hendaknya pelajar bertawakkal kepada Allah, tidak menyibukkan dirinya dengan masalah rizki, permusuhan dan bertentangan dengan seseorang, menjauhkan diri dari pergaulan orang-orang yang ahli maksiat dan pengangguran. Karena dapat menimbulkan dampak yang negatif.


17. Ketika sedang belajar hendaknya menghadap kiblat, banyak mengamalkan, melakukan tradisi-tradisi rasululah SAW,  mengikuti ajakan ahli kebaikan, menjauhkan diri dari doanya orang yang dianiaya (madzlum), dan memperbanyak shalat dengan segala kekhusukan.


18. Bersemangat dalam menggapai kesuksesan dengan diwujudkan pada kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat serta berpaling dari kegiatan negatif dan sia-sia.Selain mampu memotivasi dirinya sendiri, pelajar juga sebaiknya memotivasi teman-temannya untuk senantiasa antusias dalam menggapai ilmu yang bermanfaat


19. Hasil-hasil pendidikanya tidak hanya sebagai suatu nasehat dan peringatan yang berharga pada dirinya, tetapi pelajar juga harus mampu mengamalkan dan menyebarkan ilmunya sehingga ilmu itu bisa membawa berkah, manfaat dan bersinar serta mendapat pahala yang luar biasa.Bagi orang-orang yang tidak mampu mengamalkan berarti ia tidak memiliki ilmu yang mumpuni, kalaupun toh memilki ilmu, maka ilmunya kurang bermanfaat.


20. Ilmu yang dimilikinya tidak membuat dirinya menjadi sombong. Pelajar wajib bersyukur kepada Allah SWT, selalu mangharapkan tambahan ilmu dari-Nya dengan cara mensyukuri secara terus menerus, berakhlakul karimah, serta menjaga diri dari hak-hak yang dimilki oleh teman, saudara, baik seagama atau seaktifitas. Berusaha melupakan dan menutupi kejelekan mereka, memaafkan segala kekeliruan dan mensyukuri terhadap terhadap orang-orang yang berbuat bagus. Imam Abu Hanifah berkata: "Kudapatkan ilmu dengan bersyukur dan memuji Allah. Tiap-tiap berhasil kufahami fiqh dan hikmah selalu saja kuucapkan Alhamdulillah. Dengan cara itu, jadi berkembanglah ilmuku."

Referensi:
Syaikh Az-Zarnuji, Ta'limul Muta'alim Thariqatta'allum
Kyai Hasyim Asy’ari, Adab al-Alim Wa al-Muta’allim.
Ibnu Jamรข’ah, Tadzkirah al-Sรขmi’ wa al-Mutakkalim fรฎ Adab al-‘Ilm wa al-Muta’allim