Oleh : Ust Hisyam Hidayat
Telah menjadi _sunnatullah_ bahwa *menang dan kalah senantiasa dipergilirkan* selama pertarungan peradaban sebagaimana Firman Allah:
{ ..وَتِلْكَ الأيَّام نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ..}
“Imam Thobary dalam _Jamii'ul bayan_ menyatakan: “hari-hari itu kami pergilirkan diantara manusia, maksudnya adalah hari keberuntungan (kemenangan) dan hari kerugian (kekalahan).
Kekalahan umat islam dalam episode pertarungan peradaban pada hakekatnya adalah *_istidraj_ bagi kaum kafir dan* merupakan *musibah untuk menguji umat islam* agar mengambil pelajaran dari kejadian, dapat menyikapi musibah dengan sikap yang benar dan proporsional.
Imam Fakhrudin Arrazi dalam tafsir _Mafatihul ghaib_, menyatakan:
“Ketahuilah pergantian (menang dan kalah) bukanlah dimaknai sesungguhnya. Allah kadang menolong orang beriman dan kesempatan lainya menolong orang kafir. Demikian itu karena pertolongan Allah merupakan kedudukan yang mulia lagi agung dan tidak ada hubungannya dengan orang kafir dan yang dimaksud pergantian adalah cobaan besar kadang menimpa orang kafir dan kesempatan lain menimpa orang mukmin .”
Imam Baydhowi dalam _Anwaru atTanziil wa Asrooru at-Ta’wiil_ , menyatakan:
“ .. didalamnya terdapat peringatan bahwa hakekatnya Allah tidak akan memberikan pertolongan kepada kaum kafir. Akan tetapi, kemenangan mereka merupakan istidraj (proses menuju kehancuran ) bagi mereka dan menjadi cobaan bagi orang-orang beriman”
Imam Ibnu Katsir dalam tafsir Qur’anul adhiim, menyatakan:
“jika orang-orang kafir itu menang, maka mereka cenderung melampaui batas dan sombong. Sehingga kedua hal itu menyebabkan kehancuran mereka.”
Kekalahan dalam salah satu episode pertarungan peradaban merupakan perkara yang tidak disukai secara tabiat manusia akan tetapi Allah senantiasa menjelaskan *tujuan tertimpanya musibah atas kaum muslimin* saat mengalami kekalahan di berbagai episode pertarungan peradaban. Penjelasan tersebut bertujuan untuk memberikan pemaknaan yang benar terhadap musibah. Bila pemaknaan benar maka produktifitas perjuangan tidak akan menurun dan optimisme tidak akan hilang. Diantara tujuan ditimpakan musibah atas umat islam dalam berbagai episode pertarungan peradaban adalah:
_Pertama, untuk mengetahui konsistensi keimanan para pejuang._ Apakah kekalahan membuatnya ragu akan kebenaran islam? Apakah kekalahan membuatnya ragu akan kebenaran janji kemenangan dari Allah? Apakah kekalahan tidak memalingkan sama sekali dari perjuangan islam?
Maka kekalahan yang menimpa kaum muslimin sesungguhnya akan menunjukkan siapa yang teguh keimanannya dan siapa mereka yang dirasuki kemunafikan. Allah SWT berfirman:
"Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik…" (TQS. Ali imron: 166-167 )
_Kedua, untuk memilih diantara mereka yang menjadi syahid dijalan Allah._ Banyak pejuang yang ingin segera syahid dijalan Allah karena slogan mereka adalah “hidup mulia dan mati syahid”. Maka diantara babak episode pertarungan peradaban akan terpilih beberapa atau banyak orang yang menjadi syahid dijalan Allah. Allah SWT berfirman:
" … Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim" (TQS.Ali Imron; 140)
_Ketiga, untuk membersihkan dosa sebagian pejuang dan untuk mengangkat derajat pejuang lainnya._ Allah SWT berfirman:
"Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka)" (TQS. Ali imron: 141)
Imam Ibnu katsir menjelaskan:
“dosa-dosa mereka akan dihapuskan, jika mereka telah berbuat dosa, dan jika tidak maka akan ditinggikan derajat mereka sesuai dengan apa yang telah menimpa mereka.”
_Keempat, untuk mengetahui kesungguhan pejuang dan daya tahannya dalam melanjutkan perjuangan._ Bukti keseriusan dan kesungguhan dalam mewujudkan cita-cita perjuangan hanya bisa diketahui melalui musibah-musibah yang menimpa mereka selama perjuangan. Begitu pula, akan terlihat siapa diantara mereka yang tetap bertahan dalam barisan perjuangan dan melanjutkan perjuangan sampai cita-cita tercapai atau mati syahid. Allah SWT berfirman:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar" (TQS.Ali-imron:142)
Imam Ibnu katsir menjelaskan:
“ kalian tidak akan masuk Surga sehingga kalian diuji dan nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang-orang yang sabar dalam melawan musuh”
Kemenangan hakiki adalah _bangkit dari kekalahan_. Dalam pertarungan peradaban umat Islam bisa mengalami kekalahan dalam satu periode, namun kemenangan hakiki akan diperoleh saat mereka bangkit dan kembali melakukan perjuangan.
Imam Ibnu Asyur dalam _At-tahriir wa tanwir_ menyatakan: “ Jika kalian mengalami musibah luka maka jangan khawatir dan surut keyakinan akan janji Allah untuk menolong agamanya. Ingatlah bahwa mereka (kaum kafir) juga mengalami musibah luka yang sama, maka janganlah kalian menjadi orang yang kalah secara mutlak karena sesungguhnya kalian hanya tertunda (kemenangannya).
Kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud. Keadaan itu bukanlah kekalahan mutlak karena kemenangan akhirnya diraih kembali saat konsistensi sahabat nabi akhirnya teruji dalam perjuangan yaitu segera menyambut seruan jihad dari Rasulullah walaupun baru pulang dari medan pertempuran. Terlebih seruan kedua itu dipenuhi pada saat pasukan muslim dalam keadaan luka-luka berdarah yang belum sembuh pasca perang Uhud. Kemenangan tanpa pertempuran diperoleh Rasulullah dengan pulangnya pasukan kafir quraisy ke mekkah karena ketakutan. Kemenangan hakiki ini digambarkan dalam kitab siroh, dari perang Uhud menuju Hamra Al-asad yang berjeda hanya sehari.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa ketika kaum musyrik kembali dari Perang Uhud, mereka mengatakan, "Muhammad tidak sempat kalian bunuh, dan kaki tangannya tidak kalian tawan. Alangkah buruknya apa yang telah kalian lakukan itu, sekarang kembalilah kalian." Ketika Rasulullah Saw. mendengar berita tersebut, maka beliau menyerukan kepada kaum muslim untuk siap berperang lagi, lalu mereka bersiap-siap dan berangkat. Ketika sampai di Hamra-ul Asad atau di Bi-r Abu Uyaynah (ragu dari pihak Sufyan), maka kaum musyrik berkata (kepada sesama mereka), "Kita kembali lagi tahun depan saja." Maka Rasulullah Saw. kembali pula ke Madinah. Peristiwa ini dianggap sebagai suatu peperangan (perang urat syaraf, pent.).
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal. Pada keesokan harinya —yaitu pada hari Ahad, tanggal enam belas bulan Syawwal— Rasulullah Saw. menyerukan melalui juru serunya kepada kaum muslim agar bersiap-siap mengejar musuh. Juru seru Rasulullah Saw. mengumumkan, "Tidak boleh ada yang berangkat bersama kami seorang pun kecuali orang-orang yang ikut bersama kami kemarin (dalam Perang Uhud). Lalu Jabir ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Haram meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk tidak ikut. Untuk itu ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah meninggalkan di belakangku tujuh orang saudara perempuanku." Rasulullah Saw. bersabda, 'Wahai anakku, tidak layak bagiku dan bagimu juga bila meninggalkan wanita-wanita tersebut tanpa laki-laki di antara mereka yang menjaganya. Aku bukanlah orang yang lebih mementingkan dirimu berjihad bersama Rasulullah Saw ketimbang diriku sendiri. Sekarang engkau boleh tetap tinggal menjaga saudara-saudara perempuanmu." Maka ia tetap tinggal di Madinah menjaga saudara-saudara perempuannya. Nabi Saw. memberikan izin kepada Jabir untuk tidak ikut, sedangkan beliau Saw. berangkat bersama mereka. Sesungguhnya Rasulullah Saw. kali ini berangkat hanya semata-mata untuk menakut-nakuti musuh, agar sampai kepada mereka bahwa beliau Saw. berangkat untuk mengejar mereka, hingga mereka mengira bahwa Nabi Saw. masih memiliki kekuatan, bahwa apa yang dialami oleh kaum muslim dalam Perang Uhud tidak membuat mereka lemah dalam menghadapi musuh-musuhnya.
Matahari mulai terbenam kala mereka memasuki Madinah. Keletihan di atas keletihan terbayang di wajah. Luka sabetan pedang, tusukan tombak dan luka akibat anak panah musuh yang tertancap di tubuh mengalirkan darah. Gigi seri Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam pecah, juga tangan kanan beliau yang terluka akibat menangkis pukulan yang diarahkan ke kepala beliau masih menyisakan sakit yang luar biasa. Kesedihan atas meninggalnya tujuh puluh sahabat menambah perihnya luka yang diderita kaum Muslimin di Perang Uhud itu.
Belum cukup mata terpejam untuk istirahat dari kerasnya peperangan, darah segar masih mengalir dari luka-luka yang terbalut perban. Tiba-tiba di keheningan pagi Bilal mengumumkan bahwa musuh harus dikejar. Sang komandan mensyaratkan perintah bahwa yang ikut dengannya adalah orang-orang yang ikut dalam Perang Uhud sebelumnya.
Tholhah bin Ubaidillah menemui Rosulullah, memastikan keberangkatan. Dia mendapati beliau telah siap di atas pelana kudanya di depan pintu masjid, lengkap dengan topi baja yang menutupi seluruh wajah kecuali matanya. Tanpa pikr panjang Tholhah segera berlari menuju kudanya dan segera menyiapkan diri.
Di antara orang-orang Bani Salimah yang telah siap mengijabahi seruan Allah dan Rosulullah terdapat empat puluh tentara terluka, bahkan di antara mereka ada yang mengalami lebih dari sepuluh luka tikam anak panah. Sungguh kekuatan jiwa mereka melebihi kekuatan tubuh mereka. Doa Rosulullah seketika keluar dari lisannya kala memeriksa barisan pasukan, _“Ya Allah, berkahilah Bani Salimah!”_
Pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah itu berhenti di Perang Hamra’ul Asad, kira-kira delapan mil dari Madinah, tidak jauh dari musuh di depan mereka yang telah berkemah selama beberapa waktu di Rawha. Para musuh menunggu waktu tepat untuk menghabisi muslimin hingga ke akarnya.
Di Hamra’ul Asad, Rasulullah perintahkan pasukannya untuk menyebar dan mengumpulkan kayu kering sebanyak-banyaknya. Setiap orang menumpuknya dalam tumpukan tersendiri. Ketika matahari terbenam, mereka dapat menyiapkan lebih dari lima ratus perapian dan menyalakannya ketika malam tiba.
Tiga hari mereka berada di Hamra’ul Asad menghadang musuh dengan luka-luka yang masih menganga, merancang srategi yang membuat takut musuh. Nyala api yang sangat banyak yang terpencar di areal yang luas seolah-olah menunjukkan besarnya pasukan yang sedang berkemah di sana. Kesan ini tersampaikan kepada Abu Sufyan yang membuat dia dan juga kaumnya ciut nyali dan melarikan diri ke Makkah.
Kemenangan Kaum muslim di Hamra’ul Asad diabadikan dalam Al-Qur’an:
(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan RosulNya sesudah mereka mendapatkan luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa ada pahala yang besar (yaitu) orang-orang yang jika ada yang mengatakan pada mereka “sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah”, keimanan mereka bertambah dan mereka menjawab” cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan dialah sebaik-baik pelindung.” [QS Ali Imron(3): 172-173]
Hamra’ul Asad adalah kisah keberanian dan ketangguhan Rasulullah dan para sahabat mulia. Hamra’ul Asad menjadi saksi sebuah ketaatan tiada bandingnya, saksi atas cinta perjuangan yang tiada pernah padam di berbagai keadaan. Rasa sakit, keletihan, kepayahan, duka cita yang tak hanya dirasa oleh fisik tapi juga membebani mental tak membuat mereka abai ketika panggilan perjuangan dikumandangkan.
Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan kesungguhan jiwa dan pengorbanan mereka, yaitu dengan memberikan kemenangan tanpa melakukan pertempuran, dan sekali-kali Allah tidak pernah menjerumuskan hambanya yang shalih kepada kebinasaan.
🍁
No comments:
Post a Comment