Oleh: Samik bin Makki (Dosen
UNESA dan Pembina Majelis Islam Kaffah)
Semangat menuntut ilmu yang bergelora, kokoh, dan pantang menyerah tidaklah cukup dalam mencari ilmu yang bermanfaat dan barokah. Memang semangat seperti itu akan membuat pencari ilmu bersungguh-sungguh dalam mendalami ilmu. Banyak para pelajar telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi sebagaian dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni mereka tidak mengamalkan dan tidak menyebarkannya. Hal ini menurut Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'limul Muta'alim Thariqatta'allum terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, supaya tidak tersesat, marilah kita pelajari adab dalam menuntut ilmu.
Foto Penulis (Ketua KadER Edukatif anti Narkoba BNNP Jatim) dan Pengurus KEREN lainnya yang siap menggapai dan menyebarkan ilmu menyelamatkan generasi bangsa
Semangat menuntut ilmu yang bergelora, kokoh, dan pantang menyerah tidaklah cukup dalam mencari ilmu yang bermanfaat dan barokah. Memang semangat seperti itu akan membuat pencari ilmu bersungguh-sungguh dalam mendalami ilmu. Banyak para pelajar telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi sebagaian dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni mereka tidak mengamalkan dan tidak menyebarkannya. Hal ini menurut Syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'limul Muta'alim Thariqatta'allum terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, supaya tidak tersesat, marilah kita pelajari adab dalam menuntut ilmu.
Urgensi adab dalam pendidikan
Urgensi adab disampaikan secara
gamblang oleh salah satu pendiri NU, Kyai Hasyim Asy’ari di dalam kitabnya Adab al-Alim Wa al-Muta’allim.
Menurut beliau tauhid itu mewajibkan adanya keimanan. Barangsiapa yang
tidak beriman, maka berarti ia tidak bertauhid. Iman mewajibkan adanya syari’at.
Barang siapa yang tidak bersyari’at, maka berarti ia tidak beriman dan juga
tidak bertauhid. Syari’at mewajibkan adanya adab. Barang siapa yang tidak
beradab, maka ia tidak bersyari’at, tidak beriman dan tidak bertauhid (kepada
Allah SWT).
Ungkapan Kyai Hasyim tersebut
senada dengan pakar filsafat islam dan sejarah, Prof. Naquib al-Attas di dalam
bukunya Risalah untuk Muslimin, yang
menegaskan bahwa konsep adab sangat terkait dengan pemahaman tentang wahyu.
Orang beradab adalah orang yang dapat memahami dan meletakkan sesuatu pada
tempatnya, sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.
Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia-manusia yang beradab, yaitu manusia yang beraqidah dan beramal sesuai tuntunan islam sehingga mampu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifatullah fi-ardh dengan baik.
Berikut ini tuntunan-tunutunan ulama tentang adab menuntut ilmu yang dirangkum dari berbagai kitab (klik Link di bawah ini):
A. Adab pelajar terhadap dirinya sendiri (Adab al-Muta’allim fii Nafsihi)
B. Adab Seorang Pelajar Terhadap Pengajarnya (Adabal-Muta’allim fii Nafsihi Ma’a Syaikhihi)
C. AdabPelajar Terhadap Pelajarannya (Adabal-Muta’allim fii Durusihi).
C. AdabPelajar Terhadap Pelajarannya (Adabal-Muta’allim fii Durusihi).
... bersambung

No comments:
Post a Comment